Harta Sejati yang Dibawa Mati

Harta Sejati yang Dibawa Mati

Harta Sejati yang Dibawa Mati

Suatu ketika ada seorang yang kaya raya namun dia tergolek di tempat tidurnya untuk menunggu saat maut menjemputnya. Dia tidak berdaya karena derita penyakit yang diderita tak kunjung sembuh. (baca juga : Tiada Hati Yang Sempurna)

Pada masa sehatnya seluruh hidupnya telah dihabiskan untuk mencari kekayaan dan uang semata. Ketika mengalami gelombang kehidupan ini, dia mempunyai prinsip bahwa uang dan kekayaan adalah segalanya karena uang dan kekayaan akan dapat menolongnya untuk keluar dari setiap masalah dan problema hidup yang dia hadapi. Dia sangat percaya bahwa uang adalah jaminannya dalam hidup ini bahkan dalam kehidupan yang akan datang..

Saat kematiannya sudah menjelang, diapun memerintahkan pada keluarganya agar ketika dia mati maka keluarganya untuk memasukkan sekarung penuh uang dan emasnya di dalam peti matinya nanti. Ketika dia mati maka keinginannya segera dipenuhi oleh keluarganya.

Di alam lain, dia mengambil buku pedoman sepanjang masa semua manusia untuk menemukan namanya dalam salah satu buku kehidupan yang ada. Dikarenakan pencarian itu memakan waktu yang sangat  lama, diapun merasa lapar dan haus. Setelah mencari-cari, diapun menemukan sebuah restoran yang sangat menarik hatinya untuk dimasuki. read more

Suara Laksana Piring Pecah

Suara Laksana Piring Pecah

Suara Laksana Piring Pecah

        Satu lagi cerita humor yang berjudul Suara Laksana Piring Pecah dapat kami bagikan sekedar untuk menghibur para pembaca yang berbahagia agar dapat tersenyum sejenak dan melupakan segala masalah yang mungkin mengganggu para pembaca. (baca juga : Keributan dikantor Samsat)

Inilah cerita tentang Suara Laksana Piring Pecah:

        Cerita berikut adalah kejadian yang dialami oleh satu keluarga muda yang hanya terdiri dari suami istri (sebut saja Pak Abduh dan ibu Minah). Istri Pak Abduh yaitu ibu Minah suka sekali bernyanyi. Karena kegemarannya itu, akhirnya dia memutuskan untuk bergabung dalam kelompok musik kampung.

        Sejak saat itu, ibu Minah mulai belajar dengan giat. Dari hari ke hari ibu Minah terus latihan bernyanyi. Kapanpun, dimanapun dan dalam suasana apapun dia selalu bernyanyi, entah itu di dapur, di kamar mandi, di ruang makan, saat menyapu, saat akan tidur, saat memasak bahkan saat ke toilepun dia masih menyempatkan bernyanyi (padahal menyanyi ditoilet itu tidak elok).

        Pak Abduh hanya diam saja ketika istrinya suka bernyanyi. Hanya saja kalau isterinya sudah mulai menyanyi saat dia sedang ada di rumah, maka Pak Abduh akan langsung keluar dari rumah sebentar lalu kembali kedalam, atau sekadar melongokkan kepalanya ke luar jendela. read more

Saya Bukan Pengemis

Saya Bukan Pengemis

      Saya Bukan Pengemis. Kisah dibawah ini mungkin dapat kita jadikan renungan yang sangat berharga untuk kita yang bekerja sebagai PNS, atau para pembaca yang bekerja sebagai palayan publik, pejabat, polisi, TNI ataupun karyawan lainnya agar kita sudah merasa cukup dari gaji yang kita peroleh dengan tanpa meminta lagi imbalan dari orang yang kita layani, berikut ini kisahnya:

        Pada suatu hari di dekat tempat parkir, tampak seorang anak kecil sedang duduk – duduk menunggu pembeli yang siap membeli jajanan yang dijualnya. Ketika itu dilihatnya seorang pemuda memarkir sepeda motornya dengan tergesa-gesa dan memasuki sebuah restoran.

        Pemuda tersebut ke restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan dan duduk di salah satu kursi restoran, seorang anak kecil penjaja kue yang dari tadi memperhatikan pemuda itu menghampirinya, “Om, silahkan beli kue Om, masih hangat dan enak rasanya!”

        “Tidak Dik, saya mau makan nasi saja,” kata si pemuda menolak. read more