Masa Tua Kelabu Seorang Ayah

Masa Tua Kelabu Seorang Ayah

Masa Tua Kelabu Seorang Ayah

      Pada suatu hari seorang pria sholeh (sebut saja Nasrul) pergi ke rumah panti jompo atau panti werdha bersama dengan teman-temannya. Ketika Nasrul sedang berbicara dengan beberapa ibu-ibu tua, tiba-tiba mata Nasrul tertumpu pada seorang kakek tua yang duduk menyendiri sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong.

      Lalu sang pria sholeh mencoba mendekati kakek itu dan mencoba mengajaknya berbicara. Perlahan tapi pasti sang kakek akhirnya mau mengobrol dengannya dan si kakek menceritakan kisah hidupnya. (Baca juga : Bahagia Diperoleh dari Rasa Syukur)

Inilah Kisah Masa Tua Kelabu Seorang Ayah yang dituturkan sang kakek tua:

      Sejak masa muda saya menghabiskan waktu saya untuk terus bekerja keras demi keluarga saya, khususnya untuk anak-anak yang sangat saya cintai. Sampai akhirnya saya mencapai puncaknya dimana kami bisa tinggal dirumah yang sangat besar dengan segala fasilitas yang sangat bagus tersedia.

      Demikian pula dengan anak-anak saya, mereka semua berhasil sekolah sampai ke luar negeri dengan biaya yang tidak pernah saya batasi. Akhirnya mereka semua berhasil dalam sekolah juga dalam usahanya dan juga dalam berkeluarga.

      Tibalah dimana kami sebagai orangtua merasa sudah saatnya pensiun dan menuai hasil panen kami. Tiba-tiba istri tercinta saya yang selalu setia menemani saya dari sejak saya memulai kehidupan bersama meninggal dunia karena sakit yang sangat mendadak. Sejak kematian istri saya tinggallah saya hanya dengan para pembantu saya karena anak-anak sudah mempunyai rumah yang juga besar. Hidup saya rasanya hilang, tiada lagi orang yang mau menemani saya setiap saat saya memerlukannya.

      Sangat jarang anak-anak mau menjenguk saya ataupun memberi kabar melalui telepon, bahkan sebulan pun mereka tidak menjenguk atau menanyakan atau memberi kabar. Lalu suatu ketika tiba-tiba anak sulung saya datang dan mengatakan kalau dia akan menjual rumah karena selain tidak effisien juga toh saya dapat ikut tinggal dengannya. Dengan hati yang berbunga saya menyetujuinya karena toh saya juga tidak memerlukan rumah besar lagi tapi tanpa ada orang-orang yang saya kasihi di dalamnya. Setelah itu saya ikut dengan anak saya yang sulung.

      Tapi apa yang saya dapatkan ? Setiap hari mereka sibuk sendiri-sendiri dan kalaupun mereka ada di rumah tak pernah sekalipun mereka mau menyapa saya. Semua keperluan saya, pembantu yang memberi. Untunglah saya selalu hidup teratur dari muda maka meskipun sudah tua saya tidak pernah sakit-sakitan. (Baca juga kisah lain pada : Amanda famous)

      Lalu saya tinggal dirumah anak saya yang lain. Saya berharap kalau saya akan mendapatkan sukacita didalamnya, tapi rupanya tidak. Yang lebih menyakitkan semua alat-alat untuk saya pakai mereka ganti, mereka menyediakan semua peralatan dari kayu atau plastik dengan alasan untuk keselamatan saya tapi sebetulnya mereka sayang dan takut kalau saya memecahkan alat-alat mereka yang mahal-mahal itu. Setiap hari saya makan dan minum dari alat-alat kayu atau plastik yang sama dengan yang mereka sediakan untuk para pembantu dan anjing mereka. Setiap hari saya makan dan minum sambil mengucurkan airmata dan bertanya dimanakah hati nurani mereka?

      Akhirnya saya tinggal dengan anak saya yang terkecil, anak yang dulu sangat saya kasihi melebihi yang lain karena dia dulu adalah seorang anak yang sangat memberikan kesukacitaan pada kami semua. Tapi apa yang saya dapatkan?

      Setelah beberapa lama saya tinggal disana akhirnya anak saya dan istrinya mendatangi saya lalu mengatakan bahwa mereka akan mengirim saya untuk tinggal di panti jompo dengan alasan supaya saya punya teman untuk berkumpul dan juga mereka berjanji akan selalu mengunjungi saya.

      Sekarang sudah hampir tiga tahun saya disini tapi tidak sekalipun dari mereka yang datang untuk mengunjungi saya apalagi membawakan makanan kesukaan saya. Hilanglah semua harapan saya tentang anak-anak yang saya besarkan dengan segala kasih sayang dan kucuran keringat. Saya bertanya-tanya mengapa kehidupan hari tua saya demikian menyedihkan padahal saya bukanlah orangtua yang menyusahkan, semua harta saya mereka ambil. Saya hanya minta sedikit perhatian dari mereka tapi mereka sibuk dengan diri sendiri.

      Kadang saya menyesali diri mengapa saya bisa mendapatkan anak-anak yang demikian buruk. Masih untung disini saya punya teman-teman dan juga kunjungan dari sahabat – sahabat yang mengasihi saya tapi tetap saya merindukan anak-anak saya. Itulah Kisah Masa Tua Kelabu Seorang Ayah yang telah dituturkan oleh sang kakek di panti jompo tersebut sembari meneteskan air mata di pipi keriputnya.

      Sejak itu Nasrul sang pria sholeh selalu menyempatkan diri untuk datang kesana dan berbicara dengan sang kakek. Lambat laun tapi pasti kesepian di mata sang kakek berganti dengan keceriaan apalagi kalau sekali-sekali Nasrul membawa serta anak-anaknya untuk berkunjung.

      Itulah postingan Kisah Masa Tua Kelabu Seorang Ayah yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan garapan semoga kita dapat mengambil hikmah dari Kisah Masa Tua Kelabu Seorang Ayah sehingga kita tidak membiarkan para orangtua kesepian dan menyesali hidupnya hanya karena semua kesibukan hidup kita. (Baca juga kisah lain pada : Aneh Semua Orang Acuh)

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *