Ketika Rindu Menyapa

Ketika Rindu Menyapa

Ketika Rindu Menyapa

Ketika Rindu Menyapa

      Seandainya aku bisa kembali ke masa lalu, dimana aku berkumpul dengan ayah dan ibuku tercinta, ingin rasanya aku mengulanginya masa itu. Saat berkumpul bersama mereka, terasa bahagia walau hidup ditengah kesederhanaan.

      Rumah kami sangat kecil, berdinding bambu dan beratap genting tua. Tapi disanalah kami tumbuh, disanalah tempat kami mendapat curahan kasih sayang dari ayah, ibu dan saudara-saudara tercinta.  

      Angin malam yang berhembus diantara sela bambu sebagai dinding rumah kami tak mampu mengalahkan hangatnya belaian kasih seorang ibu, dan sayang dari saudara. (Baca juga : Hujan Gerimis pada Musim Kemarau)

      Begitupun terik matahari yang menerobos di sela genting tua rumah kami, terlupakan dengan pelukan erat seorang ayah.

      Merdu suara kicau burung yang selalu setia menyapa dari ranting pepohonan dibelakang rumah kami saat pagi menjelang. Gemericik air sungai menjadi tempat kami bersenda gurau di sela kail yang berbalas. Semua masih tersimpan dalam bayang rindu ini.

      Jam waktu terus berputar tanpa ada yang bisa menghalaunya walau sesaat. Terus berjalan, bahkan seolah berlari meninggalkan kenangan-kenangan indah itu, senang, bahagia, susah, sedih yang kini menjadi cerita lalu. (Baca juga artikel lain pada : Utamakan Isi Bukan Bungkusnya)

      Raut dari wajah-wajah ibu dan ayah yang tulus menyayangi aku itu tak akan pernah terganti, telah melekat erat bercampur dalam darah yang mengalir, dalam setiap hela nafas ini.

      Pelukan erat ayah, belaian lembut ibu dan canda-tawa semua kakak dan adik tercinta membuat kerinduan yang tak terelakkan. Dimana mencari kebahagiaan seperti itu lagi?

      Hidup terus berjalan. Perlahan tapi pasti perpisahan itu harus terjadi. Tak satupun yang menginginkannya, tapi tak ada juga yang bisa menolaknya. Ayah dan ibu telah tiada. Hanya rangkaian do’a yang bisa kami persembahkan pada mereka berdua, dan mencoba meneruskan kebiasaan baik mereka. Kadang air mata menetes Ketika Rindu Menyapa pada mereka. (Baca juga artikel lain pada : Si Kakek Dan Burung Beo)

      Sedangkan kakak dan adikku kini jauh keberadaannya. Aku akan terus berdo’a dan berharap semoga masih diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa agar aku bisa berkumpul dengan mereka seperti dulu, walau dengan suasana yang berbeda.

      Itulah postingan kami tentang Ketika Rindu Menyapa yang merupakan curahan hati kami yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga postingan kami tentang Ketika Rindu Menyapa diatas dapat mengurangi rasa rindu kami pada mereka, terutama pada ayah dan ibu yang telah tiada. (Baca juga artikel lain pada : Soal Pilihan Ganda Materi Seni Musik)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *