Karya Setengah Hati

Karya Setengah Hati

Karya Setengah Hati

        Dibawah ini ada sebuah cerita yang kami beri judul “Karya Setengah Hati”. Cerita tersebut kami maksudkan agar menjadi renungan terutama bagi kita yang akan mencapai purna tugas pada khususnya, dan bagi semua pembaca pada umumnya. (baca juga : PENERBANGAN GRATIS DAN PELAYANAN 24 JAM)

Inilah certa tentang Karya Setengah Hati:

        Suatu ketika ada seorang tukang kayu tua yang bermaksud ingin pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia kemudian menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Ia menyampaikan bahwa ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

        Mendengar keinganan tukang kayu tersebut, pemilik perusahaan merasa sedih karena kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Namun sebelum tukang kayu tersebut pension, pemilik perusahaan memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.

        Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa karena ia ingin segera berhenti dari pekerjaan tersebut. Namun karena ia sangat menghormati pemilik perusahaan tersebut, ia tidak bisa menolaknya.

        Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan dalam pengerjaan itu. Dengan ogah – ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan – bahan sekedarnya dan dikerjakan secara asal –asalan. Akhirnya selesailah rumah yang diminta oleh tuannya. Hasilnya bukanlah sebuah rumah yang baik.

        Sungguh sangat disayangkan karena ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan. Tidak seperti rumah yang biasa ia buat sebelumnya.

        Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya telah selesai, ia lalu menyerahkan kunci rumah itu pada si tukang kayu.

        “Ini adalah rumahmu,”  katanya, “hadiah dari kami atas segala prestasimu yang membanggakan selama ini” lanjut pemilik perusahaan.

        Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya ia. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah itu untuk dirinya sendiri, maka ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali, dengan sepenuh hati.

        Kini ia harus tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

        Sahabatku, itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan dan kurang bertanggung jawab. Lebih memilih bekerja dan berusaha ataupun beribadah ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting  dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.

        Pada akhir perjalanan hidup, kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah situasi yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula maka kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda, jauh lebih baik.

Renungkan bahwa kita adalah “si tukang kayu”.

Renungkan pula “rumah” yang sedang kita bangun.

        Setiap hari kita memasang pondasi, memukul paku, memasang papan, menegakkan tiang, mendirikan dinding, memasang atap dan menghiasi “rumah” agar nampak kokoh dan indah.

        Marilah kita selesaikan “rumah” kita dengan sebaik-baiknya seolah – olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup kita.

        Itulah cerita tentang Karya Setengah Hati yang dapat kami bagikan kali ini. Semoga cerita tentang Karya Setengah Hati diatas dapat menjadi renungan kita tentang makna hidup ini. (baca juga : Nasehat Kematian bagi Jiwa yang Hidup)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *