Jangan Menentang Air yang Mengalir

Jangan Menentang Air yang Mengalir

Jangan Menentang Air yang Mengalir

        Cerita tentang Jangan Menentang Air yang Mengalir merupakan cerita nasihat yang patut kita renungkan agar kita dapat mengambil hikmah dari setiap masalah yang kita hadapi dalam kehidupan ini. (Jangan Bilang Kita Orang Hebat)

Inilah cerita tentang Jangan Menentang Air yang Mengalir:

        Suatu ketika datanglah Seorang pria mendatangi Sang Guru. Ketika dihadapan guru tersebut, mulailah sang pria ttersebut mengutarakan beban hidup yang dialaminya.

        “Guru, saya sudah bosan hidup. Saya sudah tidak tahan menanggung bebabn hidup ini. Usaha yang saya bangun menjadi berantakan. Rumah tangga yang saya bina jadi berantakan. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati saja.”

        Mendengar ungkapan sang pria tersebut, Sang guru tersenyum, lalu berkata: “Oh, kamu sedang sakit anakku.”

        “Tidak guru, saya tidak sakit. Saya merasa sehat. Hanya jenuh dengan segala kehidupan. Itu sebabnya saya ingin matisaja.”

        Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan, “Kamu sedang sakit. Dan penyakitmu itu adalah, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” Kata sang guru.

        “Tidak Guru, tidak. Saya sungguh tidak dalam sedang sakit, tapi saya sudah betul-betul jenuh terhadap kehidupan ini. Saya tidak ingin hidup lagi.” Pria itu menolak tawaran sang guru.

        “Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?” Tanya sang guru ingin ketegasan si pria

        “Ya, guru. Memang saya ingin mati. Saya sudah bosan hidup.” Jawab sang pria.

        “Baiklah kalua begitu, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol isinya diminum malam ini, setengah botol lagi kamu minum besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”

        Giliran si pria menjadi bingung terhadap sang guru karena sebelumnya dia telah banyak mendatangi guru lain atau kyai. Setiap mereka yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Namun yang satu ini sangat aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena kebulatan tekadnya untuk ingin mati, maka ia menerimanya dengan senang hati.

       Sesampai dirumah sore itu, sang pria langsung menghabiskan setengah isi botol racun yang disebut “obat” oleh sang guru yang ia anggap edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal malam ini dan 1 hari besok, dia hidup dan dia akan mati esok malam setelah minum setengahnya lagi. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah yang dihadapinya.

        Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga direstoran yang paling enak masakannya dikota ini. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis pada keluarganya. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget!

        Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki telinga istrinya, “Sayang, aku mencintaimu.” Istrinya menjadi heran melihat kemesraan suaminya yang melebihi hari – hari sebelumnya. Namun istrinya sangat bersyukur terhadap perubahan perilaku suaminya yang sangat baik mala mini.

        Ya, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkankenangan manis bersama keluarga!

        Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat keluar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Juga membuatkan susu untuk anak-anaknya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis!

        Sang istripun merasa aneh sekali, “Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, sayang.”

        Namun sang pria tidak menjelaskan, ia hanya berkata, “Aku juga minta maaf atas semua kesalahanku selama ini.” Istrinya tidak mampu berkata lagi, dipuluknya suaminya sambal meneteskan air mata karena rasa syukurnya.

        Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Boss kita kok aneh ya?” Bisik mereka satu sama lain. Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut.

         Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

        Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak merekapun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, Ayah selalu stres karena perilaku kami.”

        Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum malam sebelumnya?

        Lalu Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, “Buang saja botol itu.”

        “Tapi saya sudah minum yang setengahnya, Guru.” Kata sang pria itu ketakutan.

        “Botol itu Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jangan Menentang Air yang Mengalir. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”

        Pria itu mengucapkan terima kasih dan mencium tangan Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya.

        Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!

Pelajaran dapat kita petik

        Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.

        Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga,bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Yang abadi hanya Allah SWT.

        Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita. Maka Jangan Menentang Air yang Mengalir. Ikutilah air yang mengalir. Ikutilah kehendak Allah.

Tawakkal

        Itulah postingan kami tentang Jangan Menentang Air yang Mengalir yang dapat kami bagikan kali ini. Semoga postingan tentang Jangan Menentang Air yang Mengalir diatas bermanfaat bagi kita. (baca juga : Karya Setengah Hati)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *