Hujan Menghapus Kepedihan

Hujan Menghapus Kepedihan

Hujan Menghapus Kepedihan

      Tetesan air hujan menempel basah pada kaca jendela. Claudia termenung menatap kedua piring yang kini tertata di depan mejanya. Sepiring kue brownies dan nasi padang kesukaan Claudia. Namun dia tidak merasa lapar. Dia hanya butuh Fredo, tunangannya kembali. Kepergian Fredo serasa membunuh dadanya berkali-kali. Tidak ada semangat baginya untuk brtahan hidup.

      “Claudia, kau boleh memakannya.” Seorang lelaki memakai jas putih memanjang hingga ke lutut dan stetoskop di lehernya. (Baca juga : Kebebasan Yang Terbelenggu)

       “Silakan kau pilih. Atau kau mau yang ini?” Sang Dokter menyodorkan piring nasi padang. Mata Claudia mendelik kepada lelaki berkaca mata itu.

      “TIDAK!” Claudia menolak piring itu dan melemparkannya sejauh mungkin. Ke lantai. Pecahan piring berserakan. Nasinya ikut berceceran. Sang Dokter menatapnya lirih.

      “Tahu apa dia dengan apa yang kurasakan?” batin Claudia.

      “Kau tidak suka dengan Nasi padang? Baiklah.” Dia mengatup bibirnya rapat ke tengah. “Kau butuh makan, Claudia. Kamu tidak bisa terus meratapi kepergian Fredo.”

      “Kau …,” Claudia menyorot tajam matanya, “Tak mengerti tentang … kehilangan!” Claudia berteriak sekeras dia mampu. Dokter itu menahannya untuk tenang. (Baca juga artikel lain pada : Cinta Tidak Harus Berujung Indah)

      Dia mengambil piring yang beris brownies. “Dulu, istriku selalu membawakan nasi padang untukku dan brownies untuknya setiap akhir pekan. Dia istri yang sempurna untukku.”

      Sang dokter tersenyum padaku, dia meluruskan posisinya hingga sekarang tepat pandangan dokter dan Claudia saling berpadu. “Istriku bilang, brownies mengingatkannya padaku. Pada rasa bahagia di antara lelahnya.”

      Claudia terpaku. Amarahnya perlahan mereda.

      “Kau tahu kenapa aku memilih Brownies ini?” ucapnya sembari mengangkat piring kue itu. “Brownies itu tegar tapi merapuhkan. Manisnya juara bagai aku dan istriku yang hidup bahagia. Tapi juga merapuhkan setiap kali aku mengenang mendiang Ayah dan Ibu. Kehilangan itu sangat menyakitkan, sama seperti yang kamu rasakan sekarang.”

Claudia membisu.

      “We are the same.” Kini, dokter mengambil potongan kecil kue dengan sendok dan menyodorkan kembali pada Claudia. “Please,” Claudia membuka mulut dan menerima suapan itu. Rasa lega hadir di hati. (Baca juga artikel lain pada : Soal Question Word)

      “Di mana sekarang istrimu?” Tanya Claudia.

      Dia tersenyum, “Sudah menyusul orangtuaku ke surga.”

      Entah kenapa, gerimis turun di mata Claudia. Seperti tetesan hujan. Hujan Menghapus Kepedihan.

      Itulah sekeping cerita tentang Hujan Menghapus Kepedihan yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga kita dapat terhibur dan mengambil hikmah dari cerita tentang Hujan Menghapus Kepedihan diatas. (Baca juga artikel lain pada : Ketika Takdir Berkata Lain)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *