Hujan Gerimis pada Musim Kemarau

Hujan Gerimis pada Musim Kemarau

Hujan Gerimis pada Musim Kemarau

      Dimas, seorang mahasiswa suatu perguruan tinggi ternama, sedang duduk didepan rumah memperhatikan seorang anak kecil sedang menjajakan gorengan dengan semangat agar jualannya laku. Dia yang masih dibawah umur sudah pandai menafkahi hidupnya, bahkan lebih pandai dari Dimas yang sudah mahasiswa. Tak seharusnya dia berjualan. Dia seharusnya berada di balik bangku sekolah memakai pakaian seragam, belajar di dalam kelas, menulis pelajaran, lalu pulang ke rumah membuka kembali pelajaran yang dia pelajari di sekolah. Bukannya berjualan gorengan di setiap gang-gang jalanan maupun lorong-lorong rumah. Bahkan setiap hari dia menjajakannya di area kampus Dimas. (Baca juga : Ada Tiga Hal Dalam Hidup Manusia)

      Tak sedikit mahasiswa yang memanggil-manggil dia untuk membeli gorengan. Dia nampak senang dengan profesi yang dijalaninya. Penuh dengan suka cita dan rasa senang menjalani apa yang menjadi nasibnya. Tak peduli dengan matahari yang selalu murka pada alam dengan kaki telanjang yang terseok melangkahkan di atas tanah berdebu. Sebuah perjuangan yang tidak sebanding dengan apa yang diperolehnya.

      Terkadang Dimas merasa kasihan pada anak itu, tapi terkadang pula Dimas sangat iri dengan dia. Rasa kasihan Dimas karena anak itu tidak sekolah, tapi sudah harus banting tulang mencari sesuap nasi. Berjuang di tengah kemarau yang meringis alam tanpa ampun. Kaki yang hanya beralaskan sandal jepit berbeda merek, terseok-seok melangkah di bawah garangnya mentari yang bertengger di pucuk alam dengan badan yang berkeringat berbau panggangan matahari yang membakar. Tak peduli dengan semua itu. Tak memikirkan matahari yang memanggang tubuhnya. Tak peduli seberapa besar perjuangannya, apakah sebanding dengan apa yang diperolehnya. Di benaknya hanya satu, bagaimana agar jualannya laku tanpa sisa dibeli habis di makan oleh pembelinya. (baca juga artikel lain pada : Derita Dibalik Cinta Yang Hilang)

      Rasa iri Dimas karena anak itu lebih pandai dari Dimas yang sudah mahasiswa tapi tak pernah terlintas di pikirannya untuk berusaha mencari pekerjaan dan menafkahi dirinya sendiri. Dimas hanya bisa merengek kepada orang tuanya untuk meminta uang kuliah dan bahkan dengan wajah yang dipoles dengan rasa tak puas atas uang yang diberikan ayah padanya. Lebih parahnya lagi, terkadang harus berbohong kepada orang tuanya dengan alasan membayar ini dan itu. Padahal, itu hanya celoteh rekayasa yang dibuat-buat, tapi Dimas tak pernah menyesali segala perbuatan yang direkayasa, bahkan dia merasa senang atas segala tipu daya yang dia perbuat selama ini pada orangtuanya.

      Itu sebelum Dimas belajar dari anak kecil yang selalu menjajakan gorengan. Jika mengingat semua perbuatan buruk itu terhadap ayah dan ibunya, air mata Dimas keluar tanpa dapat dicegah, mengalir deras seperti bendungan yang retak atau hujan yang mengkibatkan banjir bandang di pelosok kota dan seperti gerimis di tengah musim kemarau yang membasahi tanah yang mekar akibat kemarau panjang. (baca juga artikel lain pada : Hasil Tidak Menghianati Usaha)

      Ayah Dimas pernah berpesan kepadanya, “Nak! Jadilah anak yang bisa kami banggakan, yang bisa membuat kami berharga di depan semua orang, karena kesuksesan yang kamu perlihatkan terhadap kami semua.” Kata-kata ayahnya selalu mengkristal dalam jiwanya, tapi tak pernah peduli dengan semua itu, masuk telinga kanan ke luar ke telinga kiri. Dimas yang keras kepala tak mau mengerti keadaan ayah dan ibu dan tak mau mengerti jika sudah punya keinginan dalam dirinya, pokoknya harus dipenuhi dan ada pada saat itu juga.

      Kini Dimas baru menyadari sekarang, menyesali segala yang dia perbuat terhadap ayah dan ibunya. “Mengapa baru tiba saat ini, bukan kemarin, Tuhan?” Batin Dimas, airmata kembali mengalir deras bagai Hujan Gerimis pada Musim Kemarau yang bertengger di pucuk pilunya.

      Dibalik penyesalan itu Dimas berjanji dalam hati akan memperbaiki sifatnya. Dia bersyukur kepada Tuhan, karena dia mempunya orang tua yang mendampingi dan menafkahi segala keperluan, termasuk biaya kuliahnya.

      Itulah postingan cerita inspirasi tentang Hujan Gerimis pada Musim Kemarau yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga postingan cerita tentang Hujan Gerimis pada Musim Kemarau diatas dapat menjadi renungan bagi kita. (baca juga artikel lain pada : Soal Pilihan Ganda tentang Teori Pythagoras)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *