Common

Hikmah Dibalik Air Telaga

Hikmah Dibalik Air Telaga

Hikmah Dibalik Air Telaga

 Dibawah ini adalah kisah pembelajaran tentang Hikmah Dibalik Air Telaga. (baca juga : Tatap Masa Depan dengan Harapan)

 Pada suatu hari di suatu perkampungan, datanglah seorang pemuda ke rumah seorang ustadz yang terkenal sangat bijak. Pemuda tersebut sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dengan rambut yang acak-acakan dan air muka yang ruwet. Tamu muda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

 Setelah ditemui sang Ustadz, pemuda itu anpa membuang waktu mulai menceritakan semua masalah yang dihadapinya. Pak Ustadz yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Dia membiarkan sang pemuda itu menyampaikan segala masalahnya sampai selesai.

 Setelah sang pemuda itu selesai mengungkapkan semua masalah yang dihadapinya, Pak Ustadz lalu mengambil segenggam serbuk kopi, dan meminta tamunya untuk menuang segelas air putih. Serbuk kopi dalm genggaman sang Ustadz tersebut lalu dimasukkan kedalam gelas yang telah berisi air putih tadi. Kemudian diaduk perlahan-lahan. Kemudian diberikan kepada tamunya itu. “Silahkan, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak Ustadz itu.

 “Pahit. Rasanya Pahit sekali Pak Ustadz”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

 Pak Ustadz sedikit tersenyum. lalu dia mengajak tamunya untuk berjalan ke sebuah telaga di dekat hutan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Pak Ustadz dan pemuda itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang jernih itu.

 Pak Ustadz lalu kembali menaburkan segenggam serbuk kopi ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang untuk mengaduk-aduk serbuk kopi dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air segelas dari telaga ini dan minumlah”, pinta sang Ustadz pada pemuda tersebut.

Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.

“Segar sekali.”, sahut tamunya.

“Apakah kamu merasakan pahitnya kopi di dalam air itu?”, tanya Pak Ustadz lagi.

“Tidak”, jawab si anak muda.

 Dengan bijak, Pak Ustadz itu menepuk-nepuk bahu si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah apa Hikmah Dibalik Air Telaga dan segenggam kopi pahit itu. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk kopi, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.” Kata Pak Ustadz

 “Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.” Tambah Pak Ustadz.

 Pak Ustadz itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Sedangkan Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan kegagalan itu, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

 Pemuda tersebut merasa tenang dan damai atas apa yang telah diberikan dan disampaikan oleh Pak Ustadz. Keduanya lalu beranjak pulang. Pemuda itu banyak belajar tentang makna hidup pada hari itu.

 Itulah kisah pembelajaran makna dalam kehidupan tentang Hikmah Dibalik Air Telaga yang dapat kami bagikan kali ini dengan harapan semoga postingan tersebut diatas bermanfaat, (baca juga : Pelajaran Dibalik Hujan Turun)

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *