Home » Common » Derita Sebatang Pohon Lapuk

Derita Sebatang Pohon Lapuk

Derita Sebatang Pohon Lapuk

Derita Sebatang Pohon Lapuk

 Aku adalah sebatang pohon yang menjulang tinggi, kokoh dan kuat. Daunku lebat dengan warna merona hijau, rantingku menjuntai panjang dan dahanku bercabang anggun. Aku hidup di tengah padatnya hutan beton dengan kumbang besi dan sunyinya hiruk pikuk manusia. Tanah di bawahku sangat mewah terbuat dari pasir, beton, gamping dan kerikil yang disiram dengan air hingga membatu dan mengkilap membuatku sangat tersiksa. (Baca juga : Jadwal Waktu Sholat Up To Date)

 Kaki-kakiku tak dapat bergerak dinamis fleksibel dan hanya berkutat untuk berusaha menerjang kerasnya beton. Bahkan kakiku sering patah dan hanya bisa pasrah membelokkan langkahku untuk menghujam ke sisi lainnya.

 Tapi sayang,,,.. semakin aku berusaha melangkah semakin lemah aku tak berdaya. Bermodalkan sisa-sisa tenaga yang ada, aku terus berusaha menghijaukan daunku dan memperbanyak cabang dan ranting lenganku. Air sisa hujan musim kemarin rasa-rasanya sudah tidak mencukupi untuk ku teguk kembali walau hanya sekedar membasahi batang tenggorokanku.

 Detik itu juga aku bertanya, masihkah aku mampu memberikan sebongkah kehidupan bagi teman-teman yang menjadikanku sebagai tempat bersandar mereka?

 Wahai tuan-tuan semut, aku mohon  tetaplah merayap di batangku, agar aku tetap kokoh namun tidak mati kaku mematung dalam sunyi.

 Wahai tuan-tuan burung, tetaplah bernyanyi di ranting dahanku, agar aku tetap tersenyum dan tidak merasa hening dalam suramnya mimpi. (Baca juga artikel lain pada : Matahari Tetaplah Bersinar)

 Namun detik demi detik berlalu dengan cepatnya, menggerogoti setiap jengkah hidup yang aku miliki. Perlahan tapi pasti, semut mulai enggan merayap di batangku dan menjauh berlari meninggalkanku. Burung pun mulai berhenti bernyanyi. Mereka mengpakkan sayapnya melalanglang buana terbang tinggi.

 Kini tinggallah aku sendiri,,,, merana dan menderita. Daun-daunku mulai mongering dan berjatuhan,,, megap-megap diterpa angin muson timur yang sering berhembus akhir-akhir ini menambah deritaku. Ranting dan dahanku mulai rapuh, dan aku hanya bisa pasrah ketika tangan-tangan manusia itu mulai menjamahinya dengan paksa.

 Hingga suatu ketika, sesuatu yang tajam menggores batangku perlahan. Semakin lama semakin sakit… Aku ingin menjerit tapi suaraku terhalang oleh bisingnya benda laknat yang menghujam tubuhku. Getah-getah putih mulai mengalir sendu keluar dari epidermisku. Hanya sedikit.. karena itu adalah energy terakhir yang mampu aku keluarkan sebagai penghargaan atas takdir dari langit yang siap menjemputku.

 Sebelum benda laknat itu benar-benar memotong tubuhku. Kutengadahkan wajahku ke langit. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang masih bersedia memberikanku kehidupan. Pun ketika aku harus menjalani hidupku sendirian dalam belantara beton tak bernurani ini.

 Aku dalam Derita Sebatang Pohon Lapuk dan kini aku hanyalah separuh bangkai batang pohon tua yang tak bernyawa. Hitam.. rapuh…kusam,,, dan mulai menjamur digerus masa. Aku hanyalah separuh bangkai batang tua yang mati dengan sisa-sisa mimpi sebagai penghidupan terakhir seusai menjemput takdir. Entah kemarin, sekarang dan nanti aku akan tetap menjadi sebatang pohon lapuk di bawah rinai hujan.

 Itulah postingan kami tentang Derita Sebatang Pohon Lapuk yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga postingan tentang Derita Sebatang Pohon Lapuk diatas dapat kita petik hikmahnya. (Baca juga artikel lain pada : Kandungan Gizi Makanan 4 Sehat 5 Sempurna)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *