Bahagia Diperoleh dari Rasa Syukur

Bahagia Diperoleh dari Rasa Syukur

Bahagia Diperoleh dari Rasa Syukur

      Di suatu daerah ada seorang pedagang kaya namun dia merasa tidak bahagia. Sejak pagi buta dia telah bangun dan keluar rumah untuk memulai bekerja. Siang hari bertemu dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang. Hingga malam hari, dia masih sibuk dengan buku catatan dan mesin hitungnya. Menjelang tidur, dia masih memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya. Begitu hari-hari dia lalui dengan monoton.

      Suatu pagi setelah mandi, ketika dia berkaca, tiba-tiba dia merasa kaget saat menyadari bahwa rambutnya mulai menipis dan berwarna abu-abu. “Akh. Aku sudah mulai tua. Setiap hari aku bekerja, telah menghasilkan kekayaan begitu banyak, tetapi kenapa aku tidak bahagia? Ke mana saja aku selama ini?”  berkata dia dalam hati. (Baca juga : Mengalah Demi Ketenangan Jiwa)

      Setelah menimbang-nimbang, si pedagang memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kesibukannya dan melihat kehidupan di luar rutinitas dia. Dia berpakaian layaknya rakyat biasa dan membaur ke tempat keramaian.

“Uuuh, hidup begitu susah, begitu tidak adil! Kita telah bekerja dari pagi hingga sore, tetapi tetap saja miskin dan kurang,” terdengar sebagian penduduk berkeluh kesah.

      Di tempat lain, dia mendengar seorang saudagar kaya; walaupun harta berkecukupan, tetapi tampak sedang sibuk berkata-kata kotor dan memaki bawahannya dengan garang. Tampaknya dia juga tidak bahagia.

      Si pedagang meneruskan perjalanannya hingga tiba di tepi sebuah hutan. Saat dia berniat untuk beristirahat sejenak di situ, tiba-tiba telinganya menangkap gerak langkah seseorang dan teriakan lantang, “Huah! Tuhan, terima kasih. Hari ini aku telah mampu menyelesaikan pekerjaanku dengan baik. Hari ini aku telah pula makan dengan kenyang dan nikmat. Terima kasih Tuhan, Engkau telah menyertaiku dalam setiap langkahku. Dan sekarang, saatnya hambamu hendak beristirahat.”

      Si pedagang itu tertegun beberapa saat dan menyimak suara lantang itu. Dia bergegas mendatangi asal suara tadi. Terlihat seorang pemuda berbaju lusuh telentang di rerumputan. Matanya terpejam. Wajahnya begitu damai dalam kesederhanaannya.

      Mendengar suara suara langkah kaki mendekatinya, pemuda itu terbangun. Dengan tersenyum dia menyapa ramah, “Hai, Pak Tua. Silahkan beristirahat di sini.”

      “Terima kasih, Anak Muda. Boleh bapak bertanya?” tanya si pedagang.

      “Silakan, Pak.” Jawab pemuda itu ramah. (Baca juga cerita lain pada : Dunia Maya Menipu Cinta)

      “Apakah kerjamu setiap hari seperti ini?” Tanya si pedagang.

      “Tidak, Pak Tua. Aku bekerja di ladang.”

      “Tapi mengapa kamu nampak sangat bahagia. Apa rahasianya anak muda? Tanya si pedagang.

      “Menurutku, tak peduli apapun pekerjaan itu, asalkan setiap hari aku bisa bekerja dengan sebaik baiknya dan pastinya aku tidak harus mengerjakan hal sama setiap hari. Aku senang, orang yang kubantu senang, orang yang membantuku juga senang, pasti Allah juga senang di atas sana. Ya kan? Dan akhirnya, aku perlu bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas semua pemberiannya ini, dan rasaku Bahagia Diperoleh dari Rasa Syukur.”

      Si pedagang itu manggut-manggut mendengar penjelasan si pemuda. Dia sangat senang dengan jawaban si pemuda lusuh itu.

      Itulah postingan tentang Bahagia Diperoleh dari Rasa Syukur yang dapat kami bagikan pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga kita dapat mengambil hikmah dari postingan tentang Bahagia Diperoleh dari Rasa Syukur diatas sehingga kita dapat memperoleh kebahagiaan yang nyata. (Baca juga cerita lain pada : Surat Terakhir Untuk Sarla)

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *