Common

Aku Berada pada Titik Nol

Aku Berada pada Titik Nol

Aku Berada pada Titik Nol

 Terngiang pertanyaan …. Ingatkah aku ketika aku bayi yang pertama kali menghirup udara dunia ini? Bahwa dahulu aku hanya bisa menjerit dan menangis. Bisakah aku merasakan tetes keringat dan air mata ibu yang dengan susah payah melahirkan aku? Mampukah aku merasakan lafadz adzan ayahku yang berdendang indah ditelinga mungilku? (baca juga : Andai Ini Ramadhan Terakhirku)

 Tidak, …… aku sudah tidak ingat semua peristiwa itu. Aku juga sudah lupa tentang kejadian itu. Satu-satunya yang masih bisa aku rasakan sampai saat ini adalah dekap hangat dan kebahagiaan serta doa pengharapan dari kedua orang tuaku sejak saat aku pertama kali menyapa dunia.

 Kini tak terasa jauh sudah langkah yang telah aku tempuh.  Meninggalkan jejak demi jejak dalam setiap langkah hidupku, entah langkah itu menuju hal yang baik atau buruk.  Melewati kisah demi kisah yang berhembus kemudian  berlalu tersapu angin dan hujan.  Paling tidak aku sudah merasakan kerasnya hidup.  Merasakan arti sebuah perjuangan, jatuh bangun dan tersungkur dalam kegagalan dan kegagalan. 

 Namun setidaknya semua perjalanan tersebut telah menguatkan aku dalam menapak kehidupan. Mengajarkan proses untuk menjadi manusia yang manusia. Menjadi manusia seutuhnya.  Menjadi manusia yang mencoba untuk menerima apa yang alam sudah takdirkan untuk aku jalani.  Aku hanya perlu menjalani tanpa perlu untuk mengeluh.

 Waktu terus berputar dan tidak akan berhenti walau aku merasa lelah. Walau aku memintanya berhenti sejenak agar aku bisa melepas penat sesaat.  Sekarang aku kembali pada titik yang sama. Titik dimana aku dilahirkan.  Semuanya masih sama, yang berbeda hanyalah tahun saja. Yang berbeda hanya aku dan keadaan sekelilingku. 

 Tak ada perayaan karena memang aku tidak menyukai itu.  Aku hanya butuh waktu sejenak untuk merenung. Memandang kembali jejak langkah yang pernah kutorehkan.  Dan sekarang aku berdiam diri pada suatu titik, berdiri menatap dunia, memandang luasnya semesta.  Sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa dunia semakin menua.  Semoga pertambahan usiaku hanya akan menjadi penambah kebaikanku saja.

Amiin.

 Itulah postinganku tentang Aku Berada pada Titik Nol yang dapat aku torehkan pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga postingan tentang Aku Berada pada Titik Nol diatas dapat bermanfaat. (baca juga artikel lain pada : Cermin di Ujung Lorong)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *