Saya Bukan Pengemis

Saya Bukan Pengemis

      Saya Bukan Pengemis. Kisah dibawah ini mungkin dapat kita jadikan renungan yang sangat berharga untuk kita yang bekerja sebagai PNS, atau para pembaca yang bekerja sebagai palayan publik, pejabat, polisi, TNI ataupun karyawan lainnya agar kita sudah merasa cukup dari gaji yang kita peroleh dengan tanpa meminta lagi imbalan dari orang yang kita layani, berikut ini kisahnya:

        Pada suatu hari di dekat tempat parkir, tampak seorang anak kecil sedang duduk – duduk menunggu pembeli yang siap membeli jajanan yang dijualnya. Ketika itu dilihatnya seorang pemuda memarkir sepeda motornya dengan tergesa-gesa dan memasuki sebuah restoran.

        Pemuda tersebut ke restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan dan duduk di salah satu kursi restoran, seorang anak kecil penjaja kue yang dari tadi memperhatikan pemuda itu menghampirinya, “Om, silahkan beli kue Om, masih hangat dan enak rasanya!”

        “Tidak Dik, saya mau makan nasi saja,” kata si pemuda menolak.

        Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.

      Ketika melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, “Tidak Dik, saya sudah kenyang.”

       Sambil terus mengikuti si pemuda, si anak berkata, “Kuenya bisa dibuat oleh-oleh pulang, Om.”

       Si pemuda hanya diam, namun dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali. Dikeluarkannya satu lembar uang dua ribuan dan ia menyodorkan ke anak penjual kue. “Maaf dik, saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya.”

    Dengan senang hati anak kecil penjaja kue tadi menerima uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar restoran, dan memberikan uang pemberian pemuda tadi kepada pengemis yang berada di depan restoran.

        Si pemuda memperhatikan anak itu dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit agak tersinggung atas sikap penjaja kue yang memberikan uang pemberiannya kepada pengemis. Ia langsung menegur, “Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis itu?”

       “Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan, atas jerih payah saya sendiri, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang pemberian dari Om tapi bukan hasil dari menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu.”

        Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. “Baiklah, sekarang hitung, berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh.” Si anak pun segera menghitung dengan gembira.

        Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, “Terima kasih Dik, atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu.”

        Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, penjaja kue itu dengan gembira menerima uang itu sambil berucap, “Terima kasih, Om. Ibu saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami.”

        Itulah sebuah ilustrasi tentang sikap perjuangan hidup yang positif dan terhormat. Walaupun mereka miskin harta, tetapi mereka kaya mental! Menyikapi kemiskinan bukan dengan mengemis dan minta belas kasihan dari orang lain. Tapi dengan bekerja keras, jujur, dan membanting tulang.

        Jika setiap manusia mau melatih dan mengembangkan kekayaan mental di dalam menjalani kehidupan ini, lambat atau cepat kekayaan mental yang telah kita miliki itu akan mengkristal menjadi karakter yg sangat bagus, dan karakter itulah yang akan menjadi embrio dari kesuksesan sejati yang mampu kita ukir dengan gemilang.

      Siapapun bisa melatih sikap terpuji dan terhormat tanpa harus mengorbankan harga diri. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *