Nasehat guru kepada siswa untuk menjaga aqidah

Nasehat tentang Aqidah

       Nasehat Guru Kepada Siswa untuk Menjaga Aqidah. Contoh kegiatan di kelas seperti dibawah ini dapat dijadikan renungan yang sangat bagus untuk pembelajaran kepada kita tentang cara mempertahankan aqidah dan iman kita agar tidak mudah luntur atas godaan setan yang tidak henti-hentinya berusaha menghancurkan aqidah dengan godaan yang mengasyikkan.

“Nasehat guru kepada siswa di kelas”
    Bapak Guru yang Nampak bijaksana sedang bersemangat di depan kelas ketika mendidik siswa-siswanya untuk menyampaikan pelajaran, namun yang disampaikan pada saat itu adalah tentang aqidah dalam Syari’at Islam.

Kegiatannya adalah sebagaimana diuraikan dibawah ini.

       Di tangan kirinya ada pensil dan ditangan kanannya ada penggaris.

       Bapak Guru berkata: “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada pensil, di tangan kanan ada penggaris. Jika saya angkat pensil ini, maka berserulah “Pensil!”, jika saya angkat penggaris ini, maka berserulah “Penggaris!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti.

       Bapak Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat. Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata,
      “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat pensil, maka berserulah “Penggaris!”, jika saya angkat penggaris, maka katakanlah “Pensil!”.

       Dan permainan diulang kembali. Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti.

       Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.
       “Anak-anak, begitulah umat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh-musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan aqidah kita bahwa yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya yang bathil itu manjadi haq.”

    “Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya.

       Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

        “Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain.

       Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Kalian sudah paham?” tanya Guru kepada siswa-siswinya.

“Paham Pak Guru”

   Kemudian Bapak guru melanjutkan kegiatan pembelajaran.

       “Baiklah kita lanjutkan ke permainan kedua,” Bapak Guru melanjutkan.

    “Bapak sekarang pegang buku kamus, saya akan meletakkannya di tengah karpet yang lebar sekali. Buku kamus itu saya ibaratkan sebagai gambaran Dienul Islam, sedangkan karpet yang sangat lebar yang mengelilingi buku kamus itu sebagai gambaran dari pemeluk Dienul Islam yang menjaga Dienul Islam itu.

    Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil buku kamus yang ada di tengah karpet dan ditukar dengan buku lain, tanpa menginjak karpet tersebut?”

       Murid-muridnya berpikir. Kemudian ada yang mencoba alternatif dengan menggunakan tongkat, ada yang menggunakan tali dan lain-lain, tetapi semua usaha siswa tersebut tak ada yang berhasil.

    Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet dari pinggir sampai ketengah mendekati buku kamus tersebut, dan ia ambil buku kamus itu dan ditukarnya dengan buku filsafat materialisme.

    Bapak guru tersebut memenuhi syarat, ia tidak menginjak karpet. Kemudian ia berkata
     “Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-injak kalian sebagai orang islam dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan marah dan menolaknya mentah-mentah.
       Orang biasa bahkan orang awampun tak akan rela kalau Islam dihina di hadapan mereka. Tetapi mereka (musuh-musuh islam) akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar bahwa kalian sedang digulung (dihancurkan).

       Sekarang Bapak akan memberikan contoh lain. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibuat/dibina pondasi yang sangat kuat/kokoh agar rumahnya menjadi kokoh. Sehingga segala jenis usaha dari orang lain untuk merobohkan atau menghancurkan rumah akan gagal. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat/kokoh, maka bangunlah aqidah yang kuat.

        Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau pondasinya dahulu yang dibongkar. Lebih mudah kalau foto dan hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan dari atap.”
     “Begitulah yang terjadi pada musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan karena kalian sudah mempunyai aqidah yang kuat, tetapi mereka akan perlahan-lahan meletihkan kalian, mengikis aqidah kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, cara berpakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”
   “Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Islam Pak Guru?” tanya mereka.

   “Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang badar, dan lain-lain, mereka gagal menginjak-injak Islam. Bahkan mereka kalah.

       Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak.

       Begitulah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang, semoga aqidah kita selalu dijaga oleh Allah, SWT.”
       Matahari bersinar terik tatkala siswa-siswi itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya, tentang materi pelajaran yang telah disampaikan oleh Bapak guru.

1 thought on “Nasehat guru kepada siswa untuk menjaga aqidah”

  1. artikelnya sangat bagus,dan kita dapat bersikap sesuai aqidah dan kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk bagi kita, kita juga bisa menjaga sikap kita di depan lawan jenis kita, agar kita lebih waspada dan lebih menjadi wanita yang sholehah dan lebih berhati-hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *