Mengalah Demi Ketenangan Jiwa

Mengalah Demi Ketenangan Jiwa

Mengalah Demi Ketenangan Jiwa

      Suatu hari satu keluarga sedang berlibur di daerah pantai. Lalu mereka menggelar tikar dan menikmati keindahan pantai tersbeut sambil makan daging ayam dan juga minum minuman segar.

      Keluarga tersebut didatangi oleh serombongan burung camar yang berharap mendapat daging ayam yang mereka bawa untuk hidangan selama menikmati pemandangan indah di pantai.

      Di antara serombongan burung camar itu ada salah satu yang beruntung mendapat potongan daging ayam. Ia berhasil membuka paruh dan menyambut daging. Terdengar suara nyaring kepakan sayap sekitar dua puluhan burung camar yang berebut daging dan hanya burung itulah yang berhasil mendapatkan daging ayam. (Baca juga : Pengakuan Diri Sebagai Makhluk Lemah)

      Hanya saja si burung camar itu masih mendapat tantangan. Burung camar lainnya tidak serta merta menyerah dan tetap bersemangat merebut potongan daging ayam tersebut dari si pemenang. Beberapa burung yang masih ingin mendapatkan potongan daging tersebut mematuk matuk paruh si pemenang dan tidak ingin kalah juga.

      Si pemenang lalu terbang tinggi dengan potongan daging ayam dipauhnya karena merasa memenangi pertarungan yang adil. Dia juga berpikir kalau keberuntungannyalah yang membawanya sehingga tidak ingin memberikan apa yang telah dapatkan.

Tetapi, . . . .

      Pertarungan belum berakhir. Burung camar lain nampaknya belum mau menyerah. Mereka masih bersemangat mengejar dan merasa tertantang dengan yang sudah dimiliki si pemenang tadi. Akhirnya mereka menyerang burung camar tersebut bertubi-tubi. Semakin lama, si burung camar yang sudah berhasil mendapat potongan daging itu pun melemah. Ia nampaknya penat dan lelah menghadapi serangan burung-burung yang lain.

Akhirnya, ia pun merenung . . . .

      Apakah potongan daging tersebut layak dipertahankan? Berapa harga yang harus dibayar untuk mempertahankan sekerat daging tersebut? Apakah memang dagng tersebut pantas diperjuangkan? Di tengah-tengah keletihannya menghadapi serangan burung lain, si burung camar tiba di suatu titik . . . . . “Ehmm sepertinya aku harus melepas semua yang aku bawa selama ini. Memang aku merasa bahwa konsekuensi dari keputusanku ini tidak sebanding dengan perjuanganku dan juga keberuntunganku mendapatkan daging ayam.”

Akhirnya . . . . .

      Ia pun membuka paruhnya dan membiarkan daging ayam tersebut jatuh. Dia hanya bisa tersenyum memandang burung lain melesat dan salah satu burung camar lain berhasil menangkap potongan daging ayam yang jatuh. Ia pun masih tetap tersenyum ketika beberapa burung lain kini pindah sasaran menyerang si burung tadi. (Baca juga artikel lain pada : Yang Mana Harta Kita Sebenarnya)

      Kini si burung camar itu merasa tenang dan damai. Ia pun terbang bebas sambil mengingat nasehat yang diberikan oleh burung laut. “Masih banyak ikan di laut”. Si burung camar ini sangat yakin ia tidak akan kelaparan dan juga kekurangan karena percaya diri dengan ketrampilannya berburu. Ia yakin masih banyak kesempatan yang menunggu lewat ketrampilan dan juga kelebihan yang dimiliki. Ia pun sekarang fokus untuk menemukan makanan lain lebih santai karena sudah tidak bersaing dengan burung lain.

      Sekali lagi, si burung camar kian terbang tinggi. Ia pun bebas menikmati pemandangan pantai dan menikmati sejuknya angin laut. Burung camar ini pun merasakan penyatuan dengan keheningan di dalam dunianya kini. Ia pun berkata. “Aku memang kehilangan sekerat daging, tapi kudapatkan ketenangan jiwa di langit nan tinggi.”

      Itulah postingan tentang Mengalah Demi Ketenangan Jiwa yang telah kami sharing pada kesempatan kali ini dengan harapan semoga postingan tentang Mengalah Demi Ketenangan Jiwa diatas dapat menginspirasi kita agar dapat menemukan ketenangan jiwa kita. (Baca juga artikel lain pada : Asal Usul Getuk Lindri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *