Istri Minta Aku Poligami

Istri Minta Aku Poligani

        Istri Minta Aku Poligami. Sudah beberapa hari ini istriku merajuk dan bahkan setengah memaksa.Terus-menerus. Tak pernah berhenti. Sepanjang waktu. Siang-malam, pagi-sore; ia tak mengenal lelah untuk merajuk dan memaksa. Rajukan dan paksaannya juga tak main-main. Sangat berat. Bahkan mungkin maha berat yang sangat sulit untuk kulakukan. Ia meminta aku untuk untuk menukah lagi dengan perempuan lain. Ia meminta aku untuk melakukan poligami.

        Aku tidak tahu apa alasan pasti sehingga istriku meminta aku berpoligami. Bagi aku, istriku adalah wanita yang mendekati sempurna. Ia adalah wanita yang sholihah, cantik, tidak suka keluar rumah kalau tidak ada keperluan yang sangat penting. Itupun hanya dia lakukan kalau kalau aku mau mengantanya. Di waktu-waktu tertentu, dia begitu mandiri, tabah, dan keibuan. Di saat lain, istriku mampu bertindak cerdas dan suka bermanja. Bagi aku, dia adalah hiasan terbaik di dunia ini sehingga untuk apa aku berpoligami?

         ”Aku mohon mas, berpoligamilah. Poligami bukan buat Mas, ”tegas istri aku. ”Tapi, poligami ini buat aku. Aku ingin masuk surga seperti wanita-wanita lain yang rela dan ikhlas dimadu. Apakah Mas tidak senang jika istrinya masuk surga?”

        Aku sangat kaget dengan keteguhan dan ketegasan istriku. Tapi, aku bukannya senang dengan sikap yang tegas itu. Aku justru takut, ketegasan itu akan membuat istriku menyesal di kelak kemudian hari. Apalagi aku memang benar-benar tak ingin berpoligami. Tak ingin aku menikah lagi dengan wanita lain.

        ”Dik, perlu kamu fikirkan bahwa poligami itu bukan sesuatu yang mudah. Seorang pria yang berniat poligami harus memiliki sikap dan watak yang adil. Apakah aku akan mampu bersikap adil? Rasanya aku tidak bisa. Coba kamu pikir dan rasakan, terhadap diri kamu dan anak-anak kita saja aku kerap gagal, kerap aku mengecewakan kamu atau anak – anak kita, apalagi terhadap orang lain nantinya?”

         Aku mulai memberi nasihat kepadanya walau aka tahu bahwa dia juga wanita yang tinggi ilmu agamanya. Tentu nasihat ini aku lakukan dengan suara yang lembut. Sebab aku yakin ia pasti mau mendengarnya jika aku berbicara lembut.

        ”Selain adil, aku juga mesti punya pendapatan yang berlebih. Kecuali aku cukup kaya untuk membiayai kehidupan dua keluarga. Sebab bagaimana mungkin aku bisa berpoligami sementara pendapatanku hanya cukup untuk keluarga kita? Nah, ini yang aku tidak bisa berikan. Untuk membiayai kehidupan kamu dan anak-anak kita saja aku begitu kerepotan, bagaimana aku bisa membiayai kehidupan orang lain? Walupun seandainya aku benar – benar kaya, aku tidak punya niatan buat nikah lagi.”

        Istriku manggut – manggut. Aku senang karena kurasakan ia mulai terpengaruh pikirannya atas nasihatku. Tapi, aku dibuat terperangah karena perkataan istriku lain dengan sikapnya itu.

         ”Sejak kapan Mas berubah sikap menjadi seorang lelaki penakut? Apakah Islam telah mengajarkan Mas menjadi seorang penakut? Aku tidak pernah membayangkan Mas begitu ketakutan terhadap poligami. Padahal, kenapa kita takut berpoligami? Apa sebenarnya yang membuat kita ngeri saat ingin melakukan poligami? Takut tidak dapat berbuat adil? Takut tak bisa menafkahi? Atau takut atas alasan lain?”

        ”Dik, aku bukan takut. Tapi, aku rasional…” Belum selesai aku berkata, istriku sudah memotong.

        ”Benar, Mas memang rasional. Tapi, rasional yang didasari oleh rasa ketakutan. Kalau Mas bicara dan bertindak atas nama sesuatu, tetapi sudah didasari rasa ketakutan dan kekhawatiran, selamanya Mas tidak akan pernah bisa jujur terhadap diri sendiri.”

        Aku tak mampu melawan kata-kata istriku. Hari ini, aku berdebat dengan istriku mengenai poligami. Tapi, posisi kami malah bertolak belakang. Aku bukan hendak minta izin berpoligami, melainkan aku  justru dipaksa istriku untuk berpoligami.

       ”Dik, kata Pak Quraish Shihab, poligami itu dapat diibaratkan pintu darurat di pesawat terbang….” Belum juga selesai aku bicara, istriku sudah memotong lagi.

        ”Pintu darurat yang seperti apa? Apa jenis pesawat terbangnya Mas?” potong istriku cepat. ”Setahu aku, Al Qur’an tidak pernah mengibaratkan poligami seperti pintu darurat pesawat terbang. Al Qur’an hanya bilang, kalau mampu bersikap adil, nikahlah dengan dua, tiga, atau empat. Kalau tak mampu cukup satu saja.”

         ”Itulah yang aku takutkan. Aku takut tak …” Istriku kembali menimpali sebelum aku selesai bicara.

        ”Nah, benarkan. Kalau Mas bicara takut berpoligami karena rasa takut dan khawatir. Akhirnya, Mas mengaku juga….”

        Aku telah masuk ke dalam perangkap pikiran cerdas istriku. Aku kini terdiam. Benar-benar terdiam seribu bahasa. Aku hanya menundukkan kepala pertanda menyerah.

        ”Mas, ”panggil istri aku dengan senyum dan mata yang menawan. ”Aku ingin Mas secepatnya berpoligami. Aku ikhlas. Benar-benar ikhlas. Bahkan kalau Mas tak bisa mencari wanita lain untuk dinikahi, aku bersedia mencarikannya untuk Mas.”

        Aku menengadahkan kepalaku ke wajahnya. Istri aku tersenyum. Senyumnya begitu lembut. Aku membalasnya dengan pelukan hangat. Diam-diam hati aku menjadi berbunga-bunga. Gembira. Membayangkan ada wanita lain yang (tentu saja) lebih muda, lebih cantik, dan mungkin lebih lainnya dibandingkan dengan istriku sekarang ini. Kegembiraan aku tak tertahankan. Aku peluk istriku erat – erat …. !!!!!!!!

”Mas! Bangun! Bangun, Ayo bangun Mas!!!! Mimpi apa sih?!! Kok peluk guling begitu eratnya. Senyum – senyum. Ketawa sendiri lagi.”

        Idiiiich?!?!?! Kok serius banget sich bacanya. Hhehehe.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *